Rabu, 06 April 2011

BAGAIMANA MENYENTUH HATI
“Kiat-kiat Memikat Objek Dakwah”
Dikutip dari buku karangan; Abbas As-Siisi
Wasiat Hasan Al-Banna
Saudaraku, Janganlah engkau putus asa, kerana putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa ke-nyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari inj adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidup-nya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat. Allah swt. berfirman, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami ivguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dan mereka itu," (Al-Qashash: 5-6) Putaran waktu akan memperhhatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, kerana bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembab kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya. Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, kerana bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari. Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, kerana kita memang tidak mengenal kata "berhenti" dalam berjihad. Allah swt. berfirman, "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan.Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut: 69)
Tugas Kita
Dalam memberikan arahan  (taujih)  tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya, "Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga elektrik. Para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran elektrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran elektrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga elektrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit elektrik, hanya saja tenaga elektrik yang ada itu tidak dimanfaatkan."
Demikianlah, Allah swt. telah menurunkan Al Qur'an Al-Karim kepada
kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah swt. berfirman,
“Sesunggubnya telah datang kepada kalian cahaya dari  Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itupula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)
Begitu pula dengan Al-Qur'an Al-Karim, ia adalah pusat pembangkit "tenaga" bagi kaum muslimin, tetapi sumber kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun menjadi rusak.
Tugas kita sebagai da'i adalah seperti tugas para pegawai elektrik, mengalirkan kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelihngnya. Allah swt. berfirman,
"Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)
Tatkala Anda ingin memikat hati mad'u, Anda harus ingat bahwa Anda adalah seorang da'i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala Anda berdakwah, Anda harus ingat bahwa Anda sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka Anda harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana cara memberikannya.    

Rintangan Dakwah
Permasalahan yang menghadang seorang da'i di tengah medan dakwah adalah permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, padahal orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil. Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali kepada diri sang da'i itu sendiri, yakni berkaitan dengan potensi dirinya secara ruhiah, di samping kecekapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam mewujudkannya.

Tiga Karakteristik Manusia
Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti ini harus dinomborsatukan, kerana mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.
2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah 
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mahu terang-terangan dalam berbuat maksiat kerana ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.
3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya kerana perbuatan dan perangainya yang jelek. Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya kerana takut dengan kejelekannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw. sebagai:  "Sejelek-jelek teman bergaul". (HR. Muslim)
Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas

Kiat-kiat memikat objek dakwah
1.   Menghafal Nama
Menghafal nama adalah hal yang penting, kerana dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Ia merupakan langkah awal dan benang Kiat Memikat Objek Dakwah pertama yang mengikat antara hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bola-bola kecil yang berserakan. Setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai.
2.   Penampilan Seorang Da'i
Cara bertutur kata dan penampilan seorang da'i akan menarik perhatian orang yang mendengar dan melihat-nya, karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Dari sini kita bisa melihat bahwa yang dipilih sebagai personil-personil pemasaran hasil produksi adalah orang-orang yang berpenampilan menarik, di sampmg kualitas produk yang terbaik. Pada hakikatnya, dakwah adalah menawarkan sebuah risalah dan landasan pola berpikir yang tercermin dalam akhlak, kepnbadian, dan penampilan.
3.       Pandangan Kasih Sayang
 Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memandang saudaranya dengan kasih sayang niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya."
Apakah pandangan yang dimaksud oleh hadits di atas adalah pandangan sekilas atau pandangan yang dipenuhi keteduhan dan kasih sayang? Yang dimaksud oleh hadits itu adalah pandangan yang ditujukan pada hati dan mengajaknya berbicara dengan lemah lembut. Ibarat kamera, hanya dengan satu kilatan dapat menangkap gambar yang sangat indah. Itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan pandangan yang tulus dan suci, pandangan yang penuh kasih sayang dan penuh rasa cmta karena Allah. Mata adalah sarana terpenting bagi seorang da'i dan merupakan wasilah yang dampaknya sangat besar bagi mad'u. Karena ketika seorang da'i memandang saudara-nya sesama muslim dengan penuh kasih sayang, seakan-akan ia telah memberikan hartanya yang paling ber-harga.Jika pandangan seseorang yang dipenuhi oleh rasa dengki saja dapat menghancurkan, maka pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang juga dapat berpe-ngaruh dalam mengantarkan kepada kebenaran yang akhirnya dapat mempererat barisan dan memperkuat bangunan. Ini merupakan kekuatan terpendam yang dimiliki oleh manusia. Apa yang Anda sembunyikan dalam hati akan ter-singkap dengan tatapan mata. Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Allah swt. berfirman,
"Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui suatu apa pun dan Dia memberi kalianpendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur." (An-Nahl: 78)
4.   Sebarkan Salam di Antaramu
Salam adalah salah satu dari asma Allah swt. Mengucapkan salam, baik kepada orang yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal akan membangkitkan rasa aman, mempererat ikatan, dan menumbuhkan rasa cinta. Rasulullah sendiri telah berwasiat tentang itu. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, "Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!" (HR. Muslim)
5.   Berjabat Tangan
Ada orang yang bertanya kepada Abu Dzar ra., "Apakah waktu itu Rasulullah saw. menjabat tangan kalian jika bertemu?" la menjawab, "Saya tidak pernah menjumpainya kecuali beliau menjabat tangan saya. Suatu hari behau mengutus seseorang kepada saya, waktu itu saya tidak berada di rumah. Ketika saya pulang, saya diberi tahu oleh istri saya. Kemudian saya menda-tangi Rasulullah. Ketika itu beliau sedang berbaring di tempat tidur. Melihat kedatangan saya, beliau bangkit dan memeluk saya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud) Berjabat tangan bukan sekedar gerakan tangan yang diwarisi secara turun-temurun, tetapi mempunyai makna dan rasa yang dipengaruhi oleh perbedaan hubungan dan kehendak. Oleh karena itulah, Islam melarang laki-laki menjabat tangan perempuan yang bukan muhrimnya. Tangan adalah alat yang sangat peka. la dapat mene-rima dan mengirim isyarat-isyarat yang tampak pada wajah atau yang tersimpan dalam hati. Berjabat tangan dapat mengukur jarak antara dua hati. Ada orang yang berjabat tangan hanya untuk basa-basi, ada pula orang yang berjabat tangan hanya sekedar menyentuh. Ada orang yang berjabat tangan, sementara wajahnya tidak mengarah pada orang yang di hadapan-nya, ada pula orang yang berjabat tangan disertai dengan tatapan mata yang sejuk. Berjabat tangan dapat menghapus dosa-dosa. Diriwa-yatkan dari Al-Barra' ra., ia berkata, Rasulullah saw. ber-sabda, "Tidaklab seorang muslim yang bertemu lulu berja-bat tangan, kecuali bagi mereka ampunan sebelum mereka berpisah." Diriwayatkan bahwa jika Rasul menjabat tangan seseorang, beliau tidak melepaskan tangan beliau sehing-ga orang itulah yang melepaskannya. Dari Mu'adz bin Jabal ra., ia berkata bahwa Rasulullah memegang tangannya dan berkata, "Hai Muadz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku berpesan kepadamu, jangan sekali-kali kamu mening-galkan membaca doa, 'Ya Allah, tolonglah aku agar dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan melakukan ibadah dengan baik,' setiap selesai shalat." (HR. Abu Dawud)
6.   Balaslah Keburukan dengan Kebaikan
"Sambunglah orang yang memutuskanmu, berilah makan orang yang bakhil
terhadapmu, dan berilah maaf orang yang berbuat zhalim terhadapmu." (Al-Hadits) Da'i yang dapat mengalahkan nafsunya dan yang ingin mempersatukan barisan kaum muslimin demi kebangkitan Islam adalah da'i yang mau menerapkan tarbiyah dan Rasulullah saw. Hal ini karena tidaklah mudah bagi orang yang sudah berbangga dengan dosa yang ia lakukan untuk mengalah dan datang kepada orang yang telah menyakitinya lalu menjabat tangan serta memaafkannya. Seorang muslim yang memiliki orientasi adalah yang memahami firman Allah, "...bersikap lemah lembut ter-hadap kaum muslimin."  (Al-Maidah: 54)  Ia akan ber-usaha semaksimal mungkin untuk menolong sesama-nya, meski ia harus mengorbankan harga dirinya di mata manusia, karena ia menyadari bahwa harga diri yang hakiki terletak pada keteguhan aqidah dan kebaikan akhlak. Seorang da'i yang berlaku rendah hati kepada sesa-ma muslim adalah da'i yang ingin mencari ridha Allah. Tatkala melakukan hal itu, ia akan merasakan ketinggi-an ruhiahnya dan ia akan merasa bahagia, karena ia telah dapat mengalahkan hawa nafsunya, dan pada akhirnya la dapat masuk ke dalam hati mad'unya. Rasulullah saw. bersabda, "Jika karenamu Allah memberikan hidayah kepada seseorang, maka hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta yang paling mahal) sekalipun."
7.   Optimisme yang Penuh Senyum dan Lapang Dada
Banyak aktivis dakwah mengukur keterlibatan orang lain dalam kancah dakwah dengan standar-standar yang sempit dan terbatas. Seseorang yang tidak mahu mencurahkan semua potensi, waktu, dan hartanya, dianggap sebagai cacat. Di antara mereka ada yang menuduh saudaranya tidak mengetahui problematika kehidupan sosial yang pelik, yang tengah dihadapi umat saat ini. Ketika seorang akh masih berstatus sebagai maha-siswa, ia memiliki waktu untuk dakwah yang relatif banyak, namun sumbangan dananya relatif sedikit. Setelah lulus dan menjadi pegawai, ia memberikan sumbangan dana lebih besar, tetapi memiliki waktu luang lebih sempit untuk dakwah. Ketika ia menikah, nilai harta dan waktu baginya menjadi berkurang. Bahkan, ketika punya anak, ia tidak dapat memenuhi tugas-tugasnya selain menurut kemampuannya. Dalam pandangan para aktivis dakwah, sering dipersepsi bahawa setiap orang harus mencurahkan segala sesuatu yang dimilikmya, padahal Allah berfirman, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Al-Baqarah: 286)
8. Bukanlah Engkau yang Menunjuki Mereka
Kesan pertama yang ditinggalkan seorang da'i di hati  mad'u  (objek dakwah)nya adalah harapan akan masa depan. Kelapangan dada dan terbukanya hati  mad'u sangat tergantung pada besarnya pengaruh pertemuan pertama antara sang da'i dengan mad'unya. Oleh kerana itu, seorang da'i harus terwarnai oleh ruh dakwah, baik secara kejiwaan mahupun perilaku. Seorang da'i harus benar-benar berorientasi kepada Allah dalam setiap langkahnya, agar dibukakan oleh Allah hatinya dan hati orang yang menjadi sasaran dakwahnya. Bila tujuannya tidak tercapai dan tidak mampu menembus hati manusia lewat cara ini kerana setiap orang punya kondisi berbeda yang tidak diketahui ke-cuali oleh Allah maka ia harus ingat firman Allah swt. "Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka menda-patpetunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberipetunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya."  (Al-Baqarah: 272)
9.   Dua Karakter Da’i:  “Cerdas dan Bersih“
Agar dakwah kita berhasil maka seorang da'i harus memiliki dua sifat ini: "cerdas dan bersih". Yang saya maksud adalah cerdas akalnya dan bersih hatinya. Saya tidak mensyaratkan kecerdasan yang brilian. Cukuplah apabila dapat memandang segala sesuatu secara proporsional, tidak ditambah atau diku-rangi. Sebab, saya menyaksikan mempersepsi realita, sehingga menganggap adat sebagai ibadah, sunah sebagai hal wajib, dan penampilan fisik sebagai hal yang utama. Hal inilah yang dapat mengacaukan terapi penyelesaian kasus-kasus yang timbul dan menyebabkan dakwah mengalami kegagalan yang serius. Sifat "bersih" menyangkut kondisi hati  yang saya kehendaki bukanlah seperti "bersihnya malaikat" tetapi hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain. Tidak bersuka ria di atas kesalahan dan penderitaan orang lain. Bahkan, merasa sedih atas kesalahan mereka dan berharap agar mereka mendapat jalan kebenaran.

10. Akhlak Lebih Utama daripada Keahlian
Suatu ketika saya pergi bersama seorang teman untuk mendaftarkan adik perempuannya ke sebuah akademi perawat di Iskandaria. Di sana kami menyerah-kan semua berkas kepada seorang karyawati bahagian pendaftaran. Kami mendapat pelayanan yang baik. Setelah memeriksa berkas-berkas itu ia lalu menunjukkan syarat-syarat yang harus dilengkapi, dengan penuh sopan santun. Ketika pulang, teman saya ini bertanya tentang keahlian karyawati yang telah melayani dengan baik tadi. Lalu saya katakan kepadanya, "Menurut saya keahlian-nya terletak pada akhlaknya yang lembut!" Inilah keahlian hakiki yang dapat menyelesaikan segala tantangan, dan ini lebih utama daripada ijazah dan keahlian. Demi-kianlah Allah berseru, "Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia"(Al-Baqarah:83) “Dan katakanlah kepada hamba-bamba-Ku, 'Hendak-lah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)’”.(Al-Isra’:53) Orang Arab mengatakan, "Kata-kata yang keluar dari mulut hendaknya penuh dengan kemuliaan dan keindahan." Bahkan ada ungkapan populer di kalangan masyarakat, "Ungkapan membawa kebahagiaan."
11.      Keindahan adalah Bahasa Hati
Tidak perlu ungkapan kata-kata kebahagiaan, kerana kebahagiaan hati sulit diung-kapkan dengan kata-kata. Kenyataannya memang penampilan yang menank itu dapat berpengaruh pada hubungan antarpribadi, bahkan hubungan secara umum. Memang, penampilan yang memukau dengan sentuhan sopan santun dan perasaan yang lembut merupakan faktor penggerak dalam memikat hati dan menyentuh perasaan. Kecan-tikan dan ketampanan seringkali berpengaruh besar dalam memperoleh kesempatan, sehingga menempat-kan seseorang pada posisi yang strategi. (Walaupun terkadang melupakan kekurangan, bahkan tidak peduli terhadap semua kekurangan yang ada, yaitu bagi mereka yang hanya mengandalkan penampilan fisik belaka). Sebenarnya, yang saya cahaya kebersihan dan kesucian.
12.      Menggunakan Sarana yang Menyenangkan Hati 
Sesungguhnya jalan menembus hati dalam dakwah tidak tergantung pada ceramah, khotbah, atau pengajian saja. Tetapi dapat menggunakan cara-cara yang menyenangkan hati, namun tidak menyimpang dari ketentuan syar'i. Cara inilah yang seharusnya digunakan dalam menyampaikan risalah dakwah kepada semua kalangan umat Islam yang beraneka ragam latar belakang, wawasan, dan lingkungannya. Sebagai contoh, nasyid islami yang dapat membang-kitkan semangat harakah islamiah "HAMAS" di Pales-tina. Nyanyian  tersebut hanyalah salah satu cara yang dapat menarik hati dan menyentuh perasaan.  
13.      Perdebatan
Sarana untuk mengajak manusia kepada Allah sangat banyak dan beragam. Yang paling umum digu-nakan adalah komunikasi verbal, untuk menyampaikan tulisan. Suatu pembicaraan sering berlanjut dengan diskusi dan perdebatan, padahal tidak semua da'i menguasai berbagai persoalan agama, baik penafsiran maupun aplikasinya. Perdebatan sering men-jadi demikian seru dan memanas, masing-masing pihak ingin memenangkan pendapatnya atas pendapat pihak lain. Kondisi seperti ini mengharuskan adanya pihak yang kalah dan pihak yang menang {win-loss solution).
 "...Dan diatas tiap-tiap orangyang berpengetahuan itu ada lagi YangMaha Mengetahui." (Yusuf: 76)
Kebenaran hakiki ada pada ayat-ayat Qur'an yang qath'iy, keteladanan yang diperagakan dalam perjalanan hidup Rasulullah saw., dan realita hidup orang-orang yang berpegang teguh pada keduanya, yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun yang berakal. Pada dasarnya, penyampaian nilai-nilai dakwah tidak memberi peluang bagi munculnya debat kusir, kerana debat semacam ini tidak membuahkan suatu kebaikan sedikit pun. Al-Qur'an mengisyaratkan hal tersebut pada ayat berikut, "Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam-macamperumpa-maan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah" (Al-Kahfi: 54)
 "Mereka berkata, cHai Nub, sesungguhnya kamu telah berbantahan dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzabyang kamu ancamkan kepada kami,jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (Huud: 32)
 "Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang telah mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang tuli dapat mendengarpanggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (mema-lingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri." (An-Naml: 80-81)
 Berdebat dengan orang-orang seperti ini tidak ada manfaatnya, ia hanya akan menemui jalan buntu. Kerana itulah Allah swt. menyuruh Rasul saw. agar berdak-wah dengan hikmah (bijaksana) dan memberi mauizhah hasanah (pelajaran yang baik), juga mewajibkan pada orang-orang yang beriman agar mendebat orang lain dengan cara yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan kesu-cian dan kebenaran yang terkandung dalam dakwah itu, yang dikukuhkan dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap keyakinannya.
 "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang (lebih) baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125) Sebagian pemuda cenderung menyukai perdebatan dan berlarut-larut dalam diskusi, hanya kerana ingm dikagumi dan ingin mengalahkan pihak lam, atau kerana sesuatuyang lain. Menghadapi orang seperti ini, seorang da'i harus dapat menyimpulkan pembicaraan bila telah tampak jelas mana "benang putih" dan mana pula "benang hitam"nya. Sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir justeru dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya, serta merusak rasa cinta kasih. Selain itu ia hanya akan menguras potensi tanpa faedah, bahkan tidak menyumbangkan kebaikan apa pun bagi dakwah itu sendiri. Perlu dipahami juga bahwa sasaran dakwah tidak hanya  pada akal, sebab di tengah umat ini terdapat jutaan orang beriman yang awam namun mudah tersentuh hatinya. Kerana itu, melayani orang yang suka berdebat tanpa batas adalah kesia-siaan belaka dan membuang-buang waktu, padahal waktu adalah kehidupan itu sendiri. Harus disadari juga bahwa kita tidak berada pada suatu masa yang akal pikiran dianggap segala-galanya hingga menuntut  curahan perhatian pada perdebatan dan diskusi sengit yang tak banyak berarti. Lain halnya bila Anda bertemu seseorang lalu terjadi perdebatan panjang dengannya, namun Anda menemu-kan dengan jelas "benang   putih" dan "benang hitam-nya" sejelas sinar matahari di siang bolong, sedangkan ia masih antusias untuk terus melakukan perbmcangan. Dalam kondisi seperti ini, biarkanlah ia, sembari menjaga etika debat yang baik. Jangan sampai ia lari kerana sikapmu, sehingga membuat orang-orang yang berpengetahuan sepertinya juga lari darimu. Insya Allah, etika baik, kesabaran, dan ketelatenanmu akan memperbanyak pendukung untuk membantumu dalam mengha-dapinya, lalu kebenaran dan keadilan yang engkau ingin-kan pun dapat tercapai, meskipun tentu memperlukan waktu. Nanti, ia akan datang kepadamu dengan ketulusan hati dan kelapangan dada.
14.      Cinta kerana Allah adalah Pintu Menuju Hati
Cinta kerana Allah adalah pembuka hati, namun terkadang muncul beberapa perilaku yang menghambat cinta tersebut.  Mengekspresikan perasaan cinta tanpa pertimbangan, tanpa penahapan, tanpa kesesuaian dan keserasian, atau tanpa memperhatikan momen dan kesempatan, dapat menyebabkan kontraproduktif. Cinta kerana Allah dan persaudaraan kerana-Nya, bukan sarana untuk menikmati pelampiasan perasaan, atau untuk membuang-buang waktu dengan mengobrol, atau kegiatan lain yang mengasyikkan namun tanpa faedah. Juga bukan sekedar untuk mencairkan beban sesama muslim dalam meringankan amanah dan tanggung jawab dakwah yang berat dengan kunjungan, memberi sedekah, membuat forum diskusi, surat menyurat, duduk-duduk berbincang tentang berbagai hal yang menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan berbagai kewajiban dan tanggung jawab konkret  padahal bagi mereka waktu adalah kehidupan itu sendiri dengan harapan bahwa semua itu merupakan jalan mudah menuju surga.
15.      Pintu Memasuki Hati
Membuka pintu hati yang baru adalah pekerjaan yang sulit dan membingungkan. Memang tidaklah masuk akal bila engkau bertemu seseorang yang sama sekali belum kamu kenal  lalu kamu katakan, "Maaf, saya ingin berkenalan dengan Anda?" Tentu orang itu akan memandangmu dengan penuh keheranan dan asing, bahkan boleh jadi akan memandangmu dengan sinis. Hal itu terjadi jika pertemuan itu terjadi di tempat umum. Lain halnya jika hal itu terjadi di masjid, pada waktu-waktu menjelang atau usai shalat, sampai batas tertentu masih bisa diterima dan masuk akal. Karena orang yang datang ke masjid tentu tidak memiliki prasangka sebagaimana orang di tempat umum tadi. Sama halnya jika hal itu terjadi di suatu acara resepsi, misalnya. Pada saat itu, ada perasaan saling berdekatan dan akrab. Lalu bagaimana jika kita tidak menemukan kondisi seperti ini? Bagaimana caranya? Inilah yang diarahkan Rasulullah saw. kepada kita dengan sabdanya,  "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan suatu amal yang bila dikerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!" Sungguh benar Rasulullah saw. Langkah awal menuju hati adalah, "ucapkan salam kepadanya", baik orang itu kau kenal atau belum kau kenal, karena dakwah Islam ditujukan untuk semua dan engkau menginginkan mereka. Bila engkau telah meng-ucapkan salam kepadanya, hukumnya sunah, maka dia harus menjawabnya, karena menjawab salam hukumnya fardhu 'ain. Allah swt. berfirman, "Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa)," (An-Nisaa: 86)
16.      Bila kau siram dengan air kemuliaan.
Engkau hidup di tengah masyarakat yang luas dan kompleks. Karenanya tidak sekali-kali engkau kehilangan peluang atau momen yang bisa kau manfaatkan untuk menjalin hubungan. Ketika engkau bertemu seseorang yang bersin kemudian mengucapkan, "Alhamdulillah," hadapkan wajahmu kepadanya —seperti yang telah dijelaskan sebelumnya— dan ucapkan,  "Yarhamukallah ya akhi  (semoga Allah merahmatimu wahai akhi)." Bila ia menyahut dengan ucapan,   "Yarhamuna wa yarhamukallah  (semoga Allah merahmati kami dan Anda)," maka ucapkan kepadanya, "Jazakallab khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)." Dapat pula kita ucapkan seperti yang Rasulullah saw. ajarkan kepada kita,  "Yahdikumullah wa yuslib balakum  (semoga Allah membimbing dan memperbaiki urusan kalian)." Seketika itu juga engkau bisa tanyakan kepadanya, "Dari mana engkau wahai akhi?" Ia akan menjawab — misalnya, "Dari Thanta (nama sebuah kota di Mesir, edt.)." "Dari kota seorang shalih bernama Sayyid Badawi? Apakah Anda mengenal Fulan? (sebutlah seorang tokoh yang terkenal)" Bila ia menjawab bahwa ia mengetahui, sebutkanlah namamu! Kemudian kau minta agar ia menyampaikan salam kepada orang itu. Ketika engkau memulai mengenalkan namamu hingga ia paham, ia pun akan segera menyebutkan namanya, pekerjaannya, dan seterusnya. Dan sinilah awal sebuah perkenalan. Perlu kiranya saya jelaskan kepada saudaraku, para da'i, bahwa dakwah yang bertahap, pelan-pelan, dan ter-program untuk mencapai hati,—sering membutuhkan waktu berbilang bulan dan tahun— bukanlah sesuatu yang tanpa target dan tujuan.
17.      Dakwah adalah Terminal
Sikap tergesa-gesa dan keinginan mewujudkan harapan serta cita-cita dengan secepatnya adalah tabiat dasar manusia (namun tentu tidak dalam segala hal). "Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa," (Al-Anbiya: 37) Ada beberapa perkara yang membutuhkan penanganan perlahan. Ibarat  pohon, ia perlu tumbuh dan berkembang hingga kokoh batangnya dan memberikan buahnya. Namun ada pula beberapa masalah yang mem-butuhkan sikap dan penanganan cepat, karena kehadirannya mungkin hanya  sekali itu dan tidak pernah kembali. Menyampaikan dakwah kepada umat manusia adalah misi yang amat berharga. Seharusnya kita menyuguhkannya dengan bentuk yang terhormat dan cara yang bijak. Dakwah di tengah masyarakat ini belum dikenal oleh banyak anggota masyarakat. Itu lantaran keawaman mereka tentang hakikat Islam dan ketinggian nilai ajarannya, juga karena kabut yang menyelimuti hati generasi mudanya lantaran berbagai doktrin yang menyesatkan. Karena itulah seorang  da'i  membutuhkan kesabaran sekaligus kecerdikan. Dakwah tidak seperti air yang dapat diminum sekali teguk. Namun ia merupakan terapi yang harus disuguhkan dengan ilmu, seni, dan waktu. Sebagaimana kata-kata bijak: "Waktu adalah bagian dari solusi". Selain itu, waktu juga merupakan bagian dari tahapan dalam penanaman nilai, pembangunan pilar-pilar dakwah hingga tegak pangkalnya, dan pengokohan dasar-dasar pemahaman.
18.      Jangan Merusak Hangatnya Perasaan
Saya menuju salah satu pejabat pemerintahan untuk menyelesaikan urusan birokrasi suatu projek perdagangan. Salah seorang pegawai yang saya kenal sebelumnya menyambut dengan sangat hangat bahkan ia pun selalu mendampingiku selama aku berada di pejabat-pejabat administrasi sampai-sampai aku mengatakan kepadanya, "Saya kasihan terhadap waktu dan kesibukan Anda untuk saya!" Ia menjawab, "Kesibukan saya untuk Anda adalah tugas pokok saya, kerana pekerjaan rasmi saya memang di sini, di  Public Relation."  Dengan kalimat tersebut berubahlah suasana pertemuan yang tadinya penuh keramahan dan tidak dibuat-buat menjadi hubungan formal. Semestinya ia mengatakan bahawa ia sangat berbahagia kerana dapat menghabiskan waktu yang baik ini bersama saya, sehingga kehangatan dan kesan manis itu tidak hilang dari perasaanku.




Indramayu, 30 mei 2010
Oleh : Nur Anisah














Tidak ada komentar:

Posting Komentar