Selasa, 12 April 2011

SIAPAKAH ANDA???

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya
seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi   Sulaimana.s


Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah  orang yang ditimpa
musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihirajiuun."
Lalusambil berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil
mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak
lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu
menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahannamun masih
berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa
amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata   memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak
membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa   neraka.

Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang email ini begitu
saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.

Jumat, 08 April 2011

Sebutir Korma Penjegal Do'a

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.
4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.
"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal adzhim" ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. "4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?". Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. "Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."
"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. "Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain."
"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."
"Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu...

Kamis, 07 April 2011

Hadits Ke-39 ARBAIN AN-NAWAWIYAH

HADITS KE-39
عَÙ†ِ ابْÙ†ِ عَبَّاس رَضِÙŠَ اللهُ عَÙ†ْÙ‡ُÙ…َا : Ø£َÙ†َّ رَسُÙˆْÙ„َ اللهِ صَÙ„َّÙ‰ الله عليه وسلم Ù‚َالَ : Ø¥ِÙ†َّ اللهَ تَجَاوَزَ Ù„ِÙŠْ عَÙ†ْ Ø£ُÙ…َّتِÙŠ : الْØ®َØ·َØ£ُ ÙˆَالنِّسْÙŠَانُ ÙˆَÙ…َا اسْتُÙƒْرِÙ‡ُوا عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ
[حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang dipaksa“
(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)

URGENSI HADITS
Imam Nawawi berkata : “Hadits ini memuat perkara-perkara yang penting. Seandainya perkara-perkara tersebut ditulis, tentu buku ini tidak mampu menampungnya.”
Ibnu Hajar karena ketidal-Hataimi berkata :”Hadits ini mempunyai manfaata yang menyeluruh, karena mengandung tiga hal dalam masalah fiqh, bahkan bias dikatakan setengah dari syariat. Karena jika semua perbuatan tidak karena kesengajaan, maka praktis hal itu kesengajaan , misalnya kekeliruan, lupa, atau karena dipaksa. Hadits ini menjelaskan dengan terang bahwa perbuatan manusia yang dilakukan dengan tidak disengaja adalah diampuni. Dengan demikian bias kita pahami bahwa perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja akan diberikan hukuman.”

FIQHUL – HADITS
1.    Makna global 
Orang yang melakukan sesuatu yang dilarang,atau meninggalkan sesuatu yang dipeintahkan Allah, dengan tanpa sengaja, baik karena kekeliruan, lupa, atau karena dipaksa, maka perbuatan tersebut tidak akan diberikan hukuman di Akhirat. Dan ini adalah karunia dan nikmat dari Allah SWT.

2.   Karunia Allah dalam member kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu[1]. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
( QS. al-Ahzab: 5 )

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Hurairoh berkata : ketika turun ayat ,  Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.QS, al-Baqarah : 284. Maka ayat tersebut cukup memberatkan para sahabat nabi, lalu duduk bersimpuh,seraya berkata : “ Ya Rosulullah, telah dibebankan kepada kami suatu amalan yang kami melaksanakannya, misalnya sholat.puasa,jihad, dan sedekah, dan ayat ini telah diturunkan kepadamu, sedang kami tidak mampu.” Kemudian Rosulullah bertanya:”apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh ahli kitab sebelum kalian, yang mengatakan ‘kami dengar dan kami melanggar.’ Tapi katakanlah ‘kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Robb kami dan Kepada Engkau-lah tempat kembali.”

Ketika para sahabat mengucapkan apa yang diajarkan Nabi, lalu turunlah ayat :
“Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Setelah itu turun pula ayat :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
(QS. al-Baqarah : 268)
 

1.       Maula-maula ialah seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seorang yang Telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil maula Huzaifah.

3.   Yang diampuni dosanya, bukan konsekwensi hukumnya
Jika perbuatan seseorang tidak sesuai dengan syari’at maka akan melahirkan suatu sanksi. Sanksi tersebut bias berupa hukuman (di dunia ) atau dinilai sebagai dosa, basa juga dengan menyusuli perbuatan yang luput atau mengganti sesuatu yang rusak. Sementara teks ahdits diatas bersifat umum, dalam member keringanan seluruh hukum yang timbul dari perbuatan seseorang yang tidak sesuai syara’ karena ketiga factor tersebut ( keliru, lupa, dan dipaksa )
Namun demikian , banyak dalil yang menunjukan bahwa toleransi (pengampunan) hanya berkenaan dengan pengampunan dosa, dan bukan sanksi hokum itu sendiri, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat :

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali Karena tersalah (Tidak sengaja)[2], dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[3] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah[4]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya[5], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
( QS. An-Nisa : 92 )

Ini semua adalah kebijakan Allah . yaitu dengan tidak menghukum seseorang dari umat Muhammad, kecuali perbuatan (dosa) yang dilakukan itu atas dasar kesengajaan.
                        
[2]  seperti: menembak burung terkena seorang mukmin.
[3]  Diat ialah pembayaran sejumlah harta Karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.
[4]  Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat.
[5]  Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

4.   Contoh kasus
*   Kekeliruan dalam membunuh
( QS. An-Nisa : 92 )
*   Sholat
“barang siapa ia lupa shalat maka hendaklah ia sholat ketika ingat, dan tidak ada kafarat bagi sholat kecuali sholat itu sendiri, ( dan tegakkanlah shalat untuk Mengingat-Ku ) (HR. Bukhori Muslim).

*   Mengucapkan kalimat yang menunjukan kekafiran
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”
Rosulullah bersabda : “ janganlah kalian menyekutukan Allah, meski kalian disem belih atau dibakar hidup-hidup.”

5.   Penjelasan secara rinci mengenai hokum keliru dan lupa
Konsekwensi yang lahir dari perbuatan seseorang karenakeliru dan lupa itu berbeda-beda, yakni sesuai dengan perbuatan atau ucapan yang dilakukan. Secara global hal tersebut terbagi dalam empat bagian :
*   Jika kekeliruan atau lupa terjadi dengan mennggalkan sesuatu yang diperintahkan, maka perintah tersebut tetap tidak gugur, namun wajib diulang.
*   Jika kekeliruan dan lupa terjadi dengan melakukan perbuatan yang dilarang, bukan perbuatan yang merusak atau menghilangkan sesuatu, maka kekeliruan seperti ini tidak berdosa.
*   Jika kekeliruan dan lupa terjadi dengan melakukan perbuatan yang dilarang, dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang merusak atau menghilangkan sesuatu, namun bukan perbuatan yang harus diberikan hukuman , maka ia harus tetap menggantinya.
*   Jika kekeliruan dan lupa terjadi dengan melakukan perbuatan yang dilarang, sedang hal yang dilakukannya adalah perbuatan yang harus diberikan hukuman, maka hukuman tersebut dianggap gugur (tidak bias diterapkan)

6.   Perbuatan ( karena ) lupa yang tidak  ditoleransi
Pembahasan diatas berkenaan dengan perbuatan melanggar syara’ yang timbul karena lupa dan tidak ada yang menyebabkan kelupaan tersebut. Namun jika kelupaan itu terjadi karena adanya suatu sebab, misalnya karena kurang hati-hati atau tidak mengambil langkah-langkah agar tetap ingat, mak perbuatannya tetap tidak bias ditolerir.

7.   Berbagai masalah fiqih yang berkenaan dengan lupa
§  Tidak bisa mengucapkan bismillah ketika menyembelih dan berburu
Syafi’i : boleh
“ seorang muslim menyembelih dengan nama Allah ( baik diucapkan atau tidak diucapkan” ( HR. al-Barra )
Dalam riwayat lain , dari Abu Hurairoh berkata : “ suatu saat rosulullah ditanya perihal seseorang yang menyembelih dan lupa mengucapkan bismillah. Nabi menjawab : “nama Allah berada dibibir setiap muslim” ( ad-Darquthni )
Hanafi, Imam  Malik, dan Imam Ahmad : tidak boleh
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya[501]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”


[6]  yaitu dengan menyebut nama selain Allah.

§  Berbicara dalam shalat karena lupa
Menurut Mazhab Syafi’i tidak membatalkan shalat, karena ucapan yang bias membatalkan sholat adalah ucapan-ucapan yang jelas dilarang
Sedang Imam Malik berpendapat bahwa perkataan yang dibolehkan adalah ucapan yang singkatyang tidak mengacaukan konsentrasi sholat.
Sementara bagi Imam Ahmad, apapun bentuknya, baik lupa atau tidak, semua ucapan didalam sholat membatalkan sholat. Kecuali makan ketika puasa karena lupa, lantaran ada dalil yang jelas membolehkannya.

8.   Makan, minum, dan bersetubuh ketika puasa karena lupa
Menurut jumhur ulama, makan, minum, atau melakukan hubungan badan ketika puasa dan lantaran lupa tidak membatalkan puasa, tapi harus segera menghentikan dan meneruskan puasanya.
“ barangsiapa yang lupa, sementara ia dalam keadaan puasa, lalu ia makan atau minum maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah “ ( HR. Bukhari )
Sebagaimana makan dan minum, hal yang sama juga berlaku dalam jima (bersetubuh). Demikian menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Syafii dan Malik. Sementara menurut Imam Ahmad, hal itu membatalkan puasa, dan karenanya harus diqadha.

9.   Kekeliruan dan lupa dalam bersumpah
Jika seseorang bersumpah lalu ia melanggar sumpahnya karena lupa, maka apakah ia dianggap melanggar sumpahnya atau tidak ?
Syafi                : tidak
Imam malik     : ya
Imam Ahmad  : membedakan antara sumpah untuk cerai dan untuk memerdekakan             budak, dengan sumpah diluar kedua hal tersebut. Beliau berpendapat, jika pelaggaran sumpah yang terjadi karena lupa itu adalah sumpah diluar talak dan memerdekakan budak, maka dianggap tidak melanggar sumpah. Namun jika sumpah yang dilanggar (karena lupa) adalah sumpah terhadap talak atau memerdekakan budak, maka dianggap telah melanggar sumpah. Dan jika dalam keadaan lupa itu dia menggauli istrinya, maka ia tetap tidak berdosa. Syaratnya ketika ia ingat bahwa dirinya telah bersumpah untuk menceraikan isrinya, maka ia harus menghentikan persetubuhan.

10.Paksaan
a.       Paksaan yang tidak bias dilakukan
b.      Paksaan yang bias dilakukan
1)      Paksaan terhadap perbuatan
§  Paksaan untuk berzina
§  Paksaan untuk membunuh
§  Paksaan untuk melakukan perbuatan selain zina dan membunuh
2)      Paksaan terhadap ucapan
“ Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”
(QS. an-Nahl : 106)
Ada beberapa hukum bagi sikap kekafiran ketika Allah menyatakan bahwa kekufuran tidak terdapat pada orang yang dipaksa, maksudnya bahwa menyatakan kekufuran secara lisan karena dipaksa tidak dianggap kufur. Jika sesuatu yang lebih berat dianggap gugur, maka yang lebih ringan lebih patut untuk gugur. Kemudian disebutkan adanya riwayat dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah membebaskan umatku (dari dosa) karena keliru atau lupa atau dipaksa”.
Dan diriwayatkan dari ‘Aisyah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda : “Tidak ada thalaq dan pembebasan budak karena pemaksaan”.
Demikianlah pendapat ‘Umar, Ibnu ‘Umar dan Ibnu Zubai.
Tsabit bin Al Ahnaf menikahi perempuan budak yang melahirkan anak milik ‘Abdurrahman bin Zaid bin Khathab. Lalu ‘Abdurrahman memaksa Tsabit dengan teror dan cemeti untuk menceraikan istrinya pada masa khalifah Ibnu Zubair. Ibnu ‘Umar berkata kepadanya : “Perempuan itu belum terthalaq dari kamu, karena itu kembalilah kepada istrimu”. Saat itu Ibnu Zubair di Makkah, maka ia disusul, lalu ia menulis surat kepada gubernurnya di Madinah. Isi surat tersebut, supaya Tsabit dikembalikan kepada istrinya dan ‘Abdurrahman bin Zaid dikenai hukuman. Kemudian Shafiyah binti Abu ‘Ubaid, istri ‘Abdullah bin ‘Umar, mempersiapkan upacara walimahnya dan ‘Abdullah bin ‘Umar menghadiri walimah ini.

11.  Rela terhadap paksaan
Jika orang yang dipaksa menampakn kerelaan dengan apa yang dipaksakan, mak dalam kondisi seperti ini apa yang dilakukan tidak dikategorikan sebagai paksaan. Dengan demikian semua akad yang dilakukan tetap sah, atau apapun yang yang dilakukan tetap diberikan sanksi.



12.Paksaan untuk melakukan kebenaran
jika seseorang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang wajib diucapkan atau perbuatan yang wajib dilaksanakan, maka ucapan atau perbuatan yang dilakukan karena paksaan tersebut tetap sah, misalnya :
*   Orang kafir yang dipaksa masuk islam, lalu ia menyatakan masuk islam, maka islamnya dianggap sah.
*   Suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi istrinya, jika sumpah tersebut telah berlangsung empat bulan dan ia tetap tidak mau menggauli istrinya, juga tidak mau menceraikannya. Maka hakim wajib memaksanya untuk menceraikannya.Dan perceraian karena paksaan hakim tersebut tetap dianggap sah.
*   Jika seseorang bersumpah untuk tidak menunaikan ajaran agamany, dan hakim memaksa untuk menunaikan, maka sumpahnya dianggap telah gugur.
*   Jika hakim memaksa seseorang untuk menjual hartanya, untuk melunasi hutang-hutangnya, maka jual beli karena paksaan tersebut dianggap sah.

Rabu, 06 April 2011

BILA HATI BERCAHAYA


Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.
Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.
Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu," tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).